Sambung Rasa Jurusan Sastra Jepang

Minasan, pada tanggal 12 Juni 2015 kemarin, salah satu proker dari ketua Himawari akhirnya terlaksana. Acara apakah itu? Yup, bener banget! Nama acaranya adalah Sambung Rasa! Apa sih Sambung Rasa itu? Waaar sih kalau belum tahu, karena acara ini baru pertama kalinya diadakan. Di acara ini, sensei-gata dan gakusei-tachi bisa saling tanya jawab dan berbagi cerita-cerita selama kuliah di jurusan sastra jepang. Mulai dari pertanyaan yang kata sensei-gata â€˜sudah diprediksi akan keluar’, bahkan sampai cerita-cerita yang membuat â€˜wow’ juga terlontarkan di acara ini. Mau tahu apa saja yang ditanyakan? Yuk disimak 🙂

Sensei-gata

Salah satu mahasiswa yang mengajukan pertanyaan
1. Perlukah ada pengelompokkan kelas? Karena kadang ada kecemburuan sosial dan menjadi tidak akrab dengan mahasiswa kelas lain. Sebenarnya apa manfaat dari pengelompokan itu? -Dika (2014)

Kurasuwake itu mempunyai sisi positif dan negatifnya lho, minasan. Kira-kira apa ya?

Sisi positif:
          Dari pihak sensei dapat mengajar dengan kecepatan tertentu sesuai kelas.
          Dapat terlihat persaingannya.

Sisi negatif:
          Ada rasa kecemburuan, ada rasa rendah diri, dsb.

Kurasuwake dilakukan supaya sensei lebih mudah dalam memberikan pengajaran. Keberhasilan itu kita sendiri yang melakukan, bukan berdasarkan kurasuwake. Sikapi sebuah kurasuwake itu seperti sebuah system.  Jangan hanya melihat kurasuwake itu dengan rasa, tetapi juga dari sisi yang lain. So, Keep fighting for the better ya, minasan!

  2. Setelah belajar Bahasa Jepang, terkesan membosankan karena tidak ada kegiatan diluar. Bisakah ada suatu program seperti fieldtrip yang dapat memaksimalkan kemampuan berbicara kita? – Laras (2014)

Sebenarnya sudah ada program untuk kegiatan di luar, yaitu KKL (Kuliah Kerja Lapangan) sebagai sarana untuk belajar mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari, dan juga ada program project work. Kegiatan dari project work adalah berkunjung ke tempat wisata lalu membuat report dalam Bahasa jepang. Ada juga kelas bisnis Jepang, kebudayaan jepang, dll. Semester awal itu masih diberi bekal mengenai Bahasa, pada semester atas baru mulai ada kegiatan-kegiatan di lapangan. Seperti kata pepatah, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.â€� 😀

3. Adakah kelas benkyoukai untuk JLPT setiap level?  – Dina (2013)

Sampai saat ini tidak ada, karena keterbatasan jumlah dosen. Tetapi sedang mengusahakan untuk membuka kelas JLPT. Untuk saat ini belajar kelompok aja dulu sama teman-teman kalian ya, nggak usah tergantung sama dosen :p

4. Dari jimusho, apakah ada semacam program kerjasama untuk para pelajar pelajar asing?       – Dian (2013)

Jimusho bekerjasama dengan dejavato. Biasanya ada beberapa volunteer yang akan mengunjungi kampus kita. Rencananya pada bulan September 2015 nanti akan ada yang datang, jadi untuk kalian yang rumahnya di Semarang, bisa tuh ‘meminjamkan’ rumah kalian untuk tempat tinggal nihonjin-nya sementara 🙂

5. Bagaimana tanggapan sensei mengenai sentilan mahasiswa tentang ‘Sensei yang baper (Bawa Perasaan)’? –NN, 2014

Karakter dosen kan berbeda-beda, jadikan itu sebagai dinamika perkuliahan. Karena sensei gata juga tidak bisa meminta semua karakter mahasiswa yang sama, begitupun mahasiswa yang tidak mungkin meminta semua sensei harus mempunyai sifat yang sama juga. Jadi kalau ada yang tidak mengenakkan ya jangan dimasukkin ke hati ya, minasan. Mungkin sensei nya lagi banyak pikiran, hehe.
Nah, ada pesan juga nih dari Ketua Jurusan kita, Eliz sensei. Kata beliau â€œtolong ciptakan kelas yang kondusif, salah satunya dengan keaktifan di dalam kelas.â€�

Foto bersama Sensei-gata dan Gakusei

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *